Tag

, , , , ,

image

Sayyidatuna Fatimah dan Ummu Kultsum gembira dengan pernikahan ayahnya, akan tetapi masih tergores rasa pedih di dalam hati mereka dengan kepergian seorang ibu tercinta yang tidak bisa digantikan kedudukannya oleh seorangpun. Akan tetapi, ketenangan hati ayahnyalah yang terpenting dalam benak kedua anak gadis ini. Tidak ada dalam hati mereka sedikitpun rasa menentang ataupun muka masam, tidak ada dalam hati mereka kecuali sebuah kesopan santunan dan akhlaq yang luhur yang bersumber dari didikan seorang ayah dan ibu yang berbudi pekerti luhur dan mulia.

Ketika dekat waktu datangnya perintah hijrah, dan sebelumnya telah terjadi ”Baitul Aqobah” yang mana orang-orang Anshar yang datangnya dari Madinah berjanji akan menolong Rasulullah Saw, dan mereka meminta agar Rasulullah Saw hijrah ke madinah, maka beliau pun memerintahkan para muslimin untuk berhijrah.

Dan datanglah Utsman bin Affan beserta Ruqayyah. Ruqayyah telah datang dari Habasyah. Ketika masuk ke rumah, dengan disambut kedua saudara kecilnya Fatimah dan Ummu Kulstum, mereka saling bertatap mata dan serentak menangis. Apa yang akan mereka katakan kepada Ruqayyah? Di mana ibu mereka?

(bersambung)

Sumber:
http://anaknyaabi.wordpress.com
• fb: Habib Abdul Qodir Ba’abud