Tag

, , , , ,

image

Air mata Sayyidatuna Fatimah  pun membasahi pipinya, akan tetapi beliau dengan cepat mengusap air matanya karena tak ingin (takut) kesedihannya diketahui ibunya. Sedangkan Sayyidatuna Fatimah dan Ummu Kultsum merasakan kesedihan didalam hati mereka atas apa yang terjadi pada ibunya yang penuh kasih sayang dan penuh perhatian. Seseorang yang sangat dicintai oleh ayahnya. Rasulullah Saw tidak merasa sedih kecuali atas apa-apa yang menimpa Sayyidatuna Khadijah, dan Sayyidatuna Fatimah mengetahui hal itu.

Jika telah pergi ibunya, siapakah yang akan menggantikan ibunya?
Tidakkah cukup kesedihan ini?
Tidakkah cukup kepedihan ini setelah pergi Abi Thalib sedangkan dia adalah orang yang paling lembut dan sekarang ibunya juga harus pergi.

Sayyidatuna Khadijah dan kedua anaknya saling berbincang-bincang dan memberi wasiat: “Wahai Fatimah, Wahai Umm Kultsum, Aku merasa ajalku telah tiba.”
Sayyidatuna Khadijah terus memberikan wasiat-wasiatnya dan di antaranya yang terpenting dan sangat ditekankan adalah mewasiatkan untuk menjaga dan memperhatikan ayahnya.

(bersambung)

Sumber:
http://anaknyaabi.wordpress.com
• fb: Habib Abdul Qodir Ba’abud