Tag

, , , , ,

image

Sesampainya di rumah, masih banyak debu yang berada di kepala Rasulullah Saw. Sayyidatuna Fatimah mendekati ayahnya dan membersikan debu yang mengotori kepala ayahnya, tanpa terasa air mata membasahi wajahnya. Fatimah ingin menahan tangisan hatinya, akan tetapi tidak mampu menahan air matanya.

Fatimah terus membersikan kepala ayahnya dan Fatimah terus menangis, menangis, dan menangis.
Nabi Saw menoleh dan berkata: “Wahai putriku, janganlah engkau menangis karena Allah Swt akan menampakkan agama ini. Tidak ada tempat yang terbuat dari batu atau tanah atau kayu (keseluruh tempat) kecuali agama ayahmu akan masuk, baik menjadikan mereka mulia atau menjadikan mereka hina.”

Beginilah keadaan mereka terus dalam keadaan jihad dengan kesabaran. Hari pun terus berlalu, kesehatan Sayyidatuna Khadijah semakin melemah, penyakitnya semakin parah.
Sayyidatuna Fatimah dan Ummu Kulstum setia mendampingi ibunya, dan duduk disampingnya. Rintihan rasa sakit terdengar dari bibir Sayyidatuna Khadijah, dan air matanya pun tak sanggup menutupi rasa sakitnya.

(bersambung)

Sumber:
http://anaknyaabi.wordpress.com
• fb: Habib Abdul Qodir Ba’abud