Tag

, , , , ,

Bahkan daripada karomah dan ketinggian maqam Abuya As Sayyid Muhammad Al Maliki, beliau sudah mencapai maqam bertemu Rasulullah secara yaqadhah (terjaga bukan mimpi) sebagaimana yang di ketahui oleh beberapa murid beliau.

Pernah di kisahkan, ketika Abuya sedang berada di Madinah, salah satu murid beliau mendapat tugas melayani kebutuhan Abuya, antara lain sarapan pagi yang biasanya berupa telor goreng mata sapi, roti, keju, susu segar, dan lain-lain.

Antara kamar pribadi Abuya yang sekaligus berfungsi sebagai kantor dan dengan dapur pribadi beliau, hanya dibatasi oleh lorong kecil. Artinya, setiap orang yang berada di dapur lantas akan masuk ke kamar Abuya, pasti melewati lorong kecil itu.

Tatkala di tangan murid itu sudah tersedia talam berisi peralatan dan menu sarapan pagi Abuya, dan sudah berada di lorong kecil, tiba-tiba teman seniornya mencegah langkahnya, agar tidak masuk ke kamar Abuya terlebih dahulu, namun di minta untuk ikut mendengarkan secara seksama.

Dengan penuh penasaran, murid tadi ikut memperhatikan ajakan teman seniornya tersebut, ternyata terdengar suara tangis lirih Abuya namun cukup jelas dari dalam kamar itu. Karena itulah mereka berdua tidak berani masuk kamar sebelum dipanggil oleh Abuya.

Selang sepuluh menit berikutnya, tiba-tiba Abuya memanggil dengan suara yang agak parau: “Aulaad, fieen futhuur..?” (Anak-anak, mana sarapannya). Kemudian masuklah mereka berdua, dengan membawa barang yang menjadi tugasnya masing-masing.

Setelah mereka berdua duduk di depan Abuya untuk menata menu sarapan dan keperluan lainnya, maka Abuya bertanya: “Tahukah kalian apa yang baru saja aku alami?” Murid senior itupun menjawab: “Tidak tahu wahai Abuya”.

Abuya berkata: “Wahai anak-anakku, baru saja aku ditemui oleh Rasulullah SAW secara langsung..!”.

Dan daripada karomah Abuya Al Imam As Sayyid Muhammad Al Maliki, banyak murid dan pecinta beliau yang bermimpi Rasulullah ternyata melihat sosok Rasulullah nyaris sama dengan sosok Abuya Al Maliki. Inilah bukti nyata adanya I’tina’ khasshah (perhatian khusus) dari Rasulullah SAW untuk beliau.

Seperti di kisahkan oleh salah satu murid beliau yang baru datang dari Indonesia. Murid baru itu dengan teman-temannya di tempatkan di ‘Utaibiyyah, Makkah. Setelah satu bulan mereka di pindah oleh Abuya ke Madinah.

Ketika tiba di kota Madinah, sebelum berziarah kepada Rasulullah, mereka menempati syuqqah Babul ‘awali hingga esok hari. Di malam hari, murid yang baru itu bermimpi. Dalam mimpinya dia bersama
teman-temannya pergi berziarah ke makam Rasulullah SAW.

Sesampainya di depan makam, ternyata sudah banyak orang-orang yang menanti dan mengitari makam tersebut, seakan-akan mereka menunggu seseorang yang akan keluar dari dalam makam. Murid itu pun ikut serta bergerombol bersama mereka, tiba-tiba dari arah belakang terjadi keributan kecil, dan orang-orang semua melongokkan kepala untuk menyaksikan apa yang terjadi.

Ternyata di sana telah berdiri seseorang yang sosoknya nyaris sama dengan Abuya, As Sayyid Muhammad bin Alwi Almaliki, sosok itu dikitari kerumunan orang, yang berteriak-teriak ramah lantaran
memanggil-manggil, “Rasulullah…Rasulullah…Rasulullah…”, entah mengapa, seketika itu juga si murid meyakini bahwa yang datang tiada lain adalah perawakan Abuya, dengan segala bentuk pakaian yang biasa melekat pada diri Abuya. Secara spontan pula murid itu mendekati dan merangkul Rasulullah SAW.

Terjaga dari tidur, dia duduk termenung memikirkan apa yang baru saja di alaminya dalam mimpi yang relative singkat itu, dan dia tidak berani bercerita kepada siapapun, sebab takut salah. Hanya saja mimpi itu terus terbayang dalam benaknya, hingga pada suatu saat dia bertanya kepada salah seorang teman seniornya, apakah ada di antara murid-murid Abuya yang pernah mimpi bertemu Rasulullah SAW?

Pada akhirnya dia mendapat keterangan, ternyata banyak juga yang mengalaminya, dan di antara mereka yang mengalami itu mengatakan bahwa sosok Rasulullah SAW yang sering muncul dalam mimpi mereka, adalah nyaris sama dengan sosok Abuya As Sayyid Muhammad bin Alwi Al Maliki Al Hasani.

Sebelum beliau wafat, berpulang ke Rahmat Allah, beliau berdoa tiga hal, yaitu: ingin meninggal diantara murid-murid dan kitab-kitabnya, yang menyolati di Masjidil Haram adalah imam yang cinta kepada beliau bukan yang benci atau memusuhinya dan meminta agar jenazahnya sebelum dikebumikan di Ma’la bisa masuk di makam Sayyidatuna Khadijah (Istri Baginda Rasulullah SAW).

Dan pada kenyataannya semua yang beliau harapkan itu diwujudkan oleh Allah SWT. Demikianlah salah satu bukti kecintaan Allah kepada beliau.

Bersambung..