Tag

, ,

Setelah kita membaca kisah Umar Kekasih Allah (Bukti Kecintaan Sayyidina Ali Bin Abi Thalib Kepada Sayyidina Umar Bin Khatthab) , maka sudah sepatutnyalah kita juga mencintai para sahabat Nabi SAW, di samping kewajiban kita sebagai muslim mencintai Ahlul Bait, kita diharuskan pula Mencintai para sahabat Nabi SAW. Karena mereka adalah manusia-manusia mulia yang hidup di zaman Nabi SAW, mengenal dan melihat Nabi SAW, membela Nabi SAW disaat kesusahan dan kesenangan, dan mereka wafat dalam keadaan muslim.

Bahkan diantara mereka ada yang mempunyai hubungan kerabat dengan Nabi SAW misalnya 4 Khulafaur Rasyidin terutama Sayyidina Ali bin Abi Thalib ra disamping ia adalah menantu Nabi SAW (menikah dengan Sayyidah Fathimah) juga ia adalah sepupu Nabi SAW. Begitu pula Utsman bin Affan yang merupakan putra sepupu Nabi SAW yakni Arwa (putra bibi Nabi SAW, al-Baidha’ binti Abdul Muthalib), ia juga menikah dengan 2 putri Nabi SAW secara bergantian (Ruqayyah dan Ummu Kultsum). Sedangkan Umar bin Khattab merupakan mertua Nabi SAW, Nabi SAW menikah dengan Hafshah binti Umar ra. Begitu pula Abu Bakar Ash-Shidiq merupakan mertua Nabi SAW, karena Aisyah binti Abu Bakar dinikahi Nabi SAW.

Mereka semua sahabat Nabi SAW yang sangat dekat hubungannya dengan Nabi SAW. Mereka semua mencintai Nabi SAW. Inilah salah satu alasan mengapa Nabi SAW sangat mencintai para sahabatnya. Beliau tidak segan-segan memuji para sahabatnya dan menyebutnya sebagai generasi terbaik dalam sejarah islam.

Dari sahabat ‘Imran bin Hushain ra berkata: Nabi SAW bersabda, “Sebaik-baik generasi adalah generasiku, kemudian generasi sesudahnya, lalu generasi sesudahnya.” (Shahih Bukhari)

Sebagai manusia tentu para sahabat Nabi SAW tidak luput dari kesalahan dan terjadi perselisihan faham bahkan sampai terjadi kekhilafan. Tapi semua ini tidak bisa dijadikan tanda kalau diantara para sahabat tidak terjalin persaudaraan yang sangat erat, tidak terjalin persahabatan yang akrab atau tidak terjalin rasa cinta antara mereka. Justru sebaliknya jalinan persahabatan dan kecintaan antara mereka tidak putus. Berapa banyak hadits Nabi SAW yang meriwayatkan indahnya pergaulan antara sahabat Nabi yang harus di teladani oleh umat Islam.

Antara Khulafaur Rasyidin Abu Bakar, Umar, Utsman dan Ali tidak sedikit terjalin hubungan kecintaan antara mereka, bahkan sampai terjadi tali kekeluargaan yang tidak bisa dipisahkan oleh apapun, contohnya Ali bin Abi Thalib ra memberi nama putra-putranya dengan nama Abu Bakar, Umar dan Utsman. Begitu pula putra Hasan bin Ali ra ada yang bernama Abu Bakar dan Umar. Dari 9 putra Husain bin Ali ra ada yang bernama Abu Bakar dan Utsman. Sekarang kita fikir saja dengan fikiran yang ‘waras’, tidak mungkin mereka memberi nama-nama mereka dengan nama musuh mereka. Mustahilkan? Pasti mereka memberi nama putra-putra mereka dengan nama orang yang mereka cintai dan sukai, ini sudah pasti. Yang saya heran ada yang mengatakan cinta mereka kepada para sahabat Nabi SAW adalah berpura-pura (taqiyah), sikap yang tidak mungkin terjadi bagi sosok manusia seperti Ali bin Abi Thalib, seorang pemberani, pahlawan perang dan berhati bersih memiliki sifat berpura-pura, balas dendam atau mengajarkan orang untuk membalas dendam. Secara logika, ini hal yang mustahil dilakukan oleh Imam Ali bin Abi Thalib.

Jadi apa sebenarnya yang diajarkan oleh Ahlul Bait?
Mereka mengajarkan kecintaan, persahabatan dan penghormatan yang dalam kepada para sahabat Nabi SAW terutama kepada Khulafaur Rasyidin, bukan menanamkan kebencian, penghinaan dan melaknat atau mengkafirkan.

Rasulullah SAW bersabda,”Jangan kamu mencaci para sahabatku. Demi diriku yang berada di tanganNya, seandainya seseorang menginfakkan hartanya berupa gunung emas sebesar gunung uhud (untuk membalas jasa-jasa mereka), maka apa yang di infakkan tidak sampai sebesar mud atau setengah mud dibanding dengan jasa mereka.”

Maka mari kita hindari berbantah-bantahan dan perdebatan yang tidak mengajak kepada iman. Apalagi di depan kita sudah tersedia sabda Nabi SAW yang tidak mungkin di ingkari lagi. Tidak ada alasan kecuali kita mengimaninya dengan sepenuh hati. Janganlah kita bermental seperti ahli kitab yang mengingkari Nabinya serta membangkang terhadap petunjuknya.

Sumber: Sayyid Hasan Husain Assegaff