Tag

, , , , , , ,

Suatu hari datanglah seorang pekerja dari Desa Abkara (tidak jauh dari Kota Baghdad, Iraq), ke rumah Amirul Mukminin Sayyidina Ali bin Abi Thalib, orang tersebut melihat pintu rumah beliau terbuka lebar. Ia menengok ke kiri ke kanan, ke samping dan ke dalam rumah, tapi tidak di dapatkan tanda-tanda adanya orang di dalam rumah beliau. Akhirnya ia memberanikan diri mengucapkan salam. Setelah mendapat izin dari penghuni rumah ia pun masuk. Di pojok rumah ia melihat Sayyidina Ali bin Abi Thalib sedang duduk berlutut, di hadapan beliau ada sebuah mangkuk dan kendi kecil berisi air.

Setelah dipersilahkan duduk, tiba-tiba Sayyidina Ali mengeluarkan sebuah kantongan kecil terbuat dari kain. Orang tersebut menyangka bahwa bungkusan itu berisi uang yang akan dihadiahkan kepadanya. Dengan susah payah Sayyidina Ali membuka bungkusan itu dan merogohkan tangan beliau ke dalamnya. Ternyata di dalam kantongan itu bukannya uang atau emas akan tetapi sepotong roti kering, hal itu membuat tamu tersebut tercengang keheranan. Sayyidina Ali memasukan roti kering itu kedalam mangkuk yang ada dihadapannya itu , lalu menuang air dari kendi yang sudah tersedia. Melihat kelakuan si tuan rumah, tamu tersebut semakin heran di buatnya. Setelah itu sayyidina Ali berkata: “Mari kita makan bersama-sama.”

Sambil menggeleng-gelengkan kepalanya karena keheranan, tau tersebut berkata: “Apakah gerangan yang engkau lakukan ini wahai Amirul Mukminin? Engkau hidup di Negeri Iraq, makanan penduduk ini begitu enak dan lezatnya, namun kenapa engkau memakan makanan yang demikian ini.”

Sayyidina Ali pun berkata dengan penuh kekhusyu’an: “Demi Allah apa yang engkau katakan itu benar, namun roti ini berasal dari Kota Nabi, Madinah Al-Munawwarah. Sesungguhnya aku lebih senang memasukan makanan ke perutku dari kota yang aku cintai.”

Dari kisah di atas kita bisa mengambil kesimpulan, bahwa begitu kuatnya kecintaan Sayyidina Ali kepada Kota Madinah Al-Munawwarah, kota dimana Rasulullah SAW hijrah, kota dimana Rasulullah SAW menetap, kota dimana Rasulullah SAW mengajar, kota dimana Rasulullah SAW dimakamkan. Sampai-sampai dalam soal makananpun beliau perhatikan. Beliau tidak memilih makanan yang enak dan lezat yang terdapat di negeri itu, melainkan beliau makan makanan yang berasal dari Kota Madinah, kota yang dicintainya tersebut. Namun kenapa beliau tinggal di Kota Kufah, Iraq pada saat beliau menjabat sebagai khalifah, kenapa beliau tidak menetap saja di Kota Madinah, Kota Rasulullah SAW sebagaimana khalifah-khalifah sebelumnya? Beliau hijrah ke Iraq bukan karena keinginannya untuk bersenang-senang, namun itu terpaksa beliau lakukan karena terjadi gejolak fitnah yang amat dahsyat akibat terbunuhnya Khalifah Utsman bin ‘Affan oleh para kaum pemberontak.

Dahulu sebelum datangnya Islam, Kota Madinah dikenal dengan nama Yastrib, nama ini diambil dari nama orang yang pertama kali menduduki kota itu. Kemudian ketika Rasulullah SAW hijrah dari Kota Makkah, nama Yastrib ini di ganti namanya menjadi Madinah. Kota ini merupakan cikal bakal dan menjadi pusat perkembangan Islam, pusat dakwah, pengajaran serta pemerintahan Islam. Dari kota inilah Islam menyebar ke seluruh jazirah Arabia hingga ke seluruh dunia. Sampai beliau SAW wafat dan dimakamkan di kota ini pula.

Kota Madinah Berjarak kurang lebih 450 km dari Kota Makkah. Zaman dahulu, perjalanan untuk menuju Kota Madinah memerlukan waktu yang cukup lama, kurang lebih 1 bulan lamanya, dan waktu itu tidak ada kendaraan kecuali dengan menggunakan onta. Namun saat ini hanya dapat ditempuh kurang lebih 4 jam dengan melalui akses jalan tol yang telah dibangun oleh pemerintah Saudi Arabia. Pada masa kekuasaan Utsmaniyah di Turki, terdapat jalur kereta api yang menghubungkan antara Kota Madinah dengan Kota Amman, Yordania serta Damaskus di Syuria. Dari sana jalur kereta api bisa langsung ke Istambul, Turki atau ke Haifa, Israel yang dikenal dengan nama Hijaz Railway. Kini jalur itu sudah tidak ada lagi dan stasiun kereta api Kota Madinah dijadikan sebuah museum. Karena jalur kereta api pada saat itu digunakan untuk kelancaran pengangkutan para jama’ah haji.

Singkatnya, Sayyidina Ali begitu sangat mendalam mencintai Kota Madinah, bukan karena kotanya yang indah dan subur, akan tetapi beliau mencintainya karena kota itu penuh dengan keberkahan, rahmat Ilahi dan cahaya Rasulullah SAW. Bahkan sampai saat ini kota itu telah menjadi magnet yang menarik milyaran manusia untuk datang berziarah. Di samping mendapatkan keberkahan Rasulullah SAW, shalat di masjid Nabi SAW memiliki pahala seribu kali lipat dibanding dengan shalat di masjid-masjid lainnya kecuali Masjidil Haram di Kota Makkah. Kota Madinah tidak pernah ‘tidur’ selamanya untuk menyambut para tamu yang datang dari pelosok bumi di sepanjang tahun.

Siapa gerangan diantara kita yang tidak tergiur untuk shalat di Masjid Rasulullah SAW dan duduk diantara kebun-kebun surga?

Sumber: Kado Dari Kota Nabi, hal: 136.