Tag

, , , , ,

Dahulu para salafunasshalihin selalu menjaga adab dan menularkannya kepada sang anak, mereka tidak meninggalkan anaknya di Hari Jum’at kecuali setelah membaca surat al-Kahfi, setelah sang anak merantau ia merasa tidak memiliki tanggung jawab, apalagi etika sudah jauh dihilangkan, mereka yang telah menanggalkan adab para salaf sudah sepantasnya untuk dishalati jenazah meski masih hidup.

Seorang penyair berkata: “Aku melewati etika dan ia sedang menangis. Akupun bertanya kepadanya: ‘Kenapa seorang pemuda menangis?’ Ia menjawab: ‘Bagaimana aku tidak menangis apabila keluargaku semuanya selain makhluk Allah lainnya telah mati.”

Jangankan menjaga etika, memberi salam atau berjabat tangan saja tidak kenal, apalagi mau menanyakan keadaan orang lain, hal semacam ini merupakan kemerosotan moral. Apakah kita rela menjadi orang mati yang berjalan di muka bumi sebelum di kubur, lihatlah misi pengutusan Nabi Muhammad SAW adalah menghubungkan manusia dengan Allah SWT dan yang kedua membenahi hubungan sesama manusia.

Anak-anak di masa lalu, kalau sedang bermain lalu ada seorang alim yang lewat mereka merasa malu kelihatan olehnya, hingga menyembunyikan diri mereka. Di masa kecil, apabila al-Habib Muhammad bin Hadi lewat di jalan dan aku belum memakai jubah, jikalau tidak kelihatan aku berusaha sembunyi, tetapi bila kelihatan aku hampiri beliau dan aku cium tangannya, kalau sekarang bukan masalah pakaian, tetapi setidaknya mereka memiliki etika. Jadi tidak cukup seseorang hanya membanggakan nasabnya tanpa mengikuti jejak salafnya, kita bisa lihat akhlak mereka dalam Kitab Syarah al-‘Ainiyah. Penulis kitab ini adalah al-Imam al-Habib Ahmad bin Zein al-Habsyi, murid dari al-Imam al-Habib Abdullah bin Alawi al-Haddad.

Sebelum kelahirannya sang ayah punya anak tiga, tetapi semuanya meninggal dunia masih bayi, tentu saja hal ini membuat ayahnya kepikiran, hingga suatu hari di tengah jalan ia berpapasan dengan seorang auliya’ yang memberitahunya, bahwa saat ini istrinya sedang hamil, setelah ia menanyai istrinya ternyata memang terdapat tanda-tanda kehamilan. Setelah lahir hingga usia remaja beliau hidup dalam kesederhanaan, bahkan dalam kemiskinan, tetapi mendapat pendidikan agama yang begitu kuat, hingga beliau merasa haus akan ilmu.

Untuk mengobati kehausannya ini beliau berangkat ke Tarim (Hadhramaut – Yemen) untuk menimba ilmu, setelah belajar dari beberapa ulama’, akhirnya ia pun menyandarkan kendalinya kepada al-Habib Abdullah bin Alawi al-Haddad, beliau terus melaziminya hingga al-Habib Abdullah al-Haddad meninggal dunia. Beliau di kenal akan ketakwaan dan keluasan ilmunya, sehingga setiap fatwa ilmu jikalau berasal darinya, maka tidak ada kalangan ulama’ yang menyangkalnya.

Al-Habib Muhammad bin Hadi Assegaf mengatakan: “Tiada rujukan lain bagi kami setelah al-Habib Ahmad bin Zein.” Bahkan para Habaib kita mengatakan: “Kami menjawab semua pertanyaan, selain pertanyaan yang telah dijawab oleh al-Habib Ahmad bin Zein.” Tetapi kalau untuk kita dimasa kini setidaknya kita benahi kerusakan pribadi luar kita.

Sumber : Lentera Qalbu