Tag

, , ,

Lanjutan jawaban Habibana..

hati hati dg sosis,karena banyak
dicampur dg daging
babi,hati hati dg
restoran cepat saji,karena mereka
sering (bukan vonis)
mereka memakai
minyak babi sebagai
minyak gorengnya,karena minyak babi
lebih cepat membuat
makanan matang
daripada minyak
goreng lainnya.
hati hati terhadap
kue kue,karena kue
kue sering dibubuhi
reum,yaitu whisky,karena itu membuat
kue cepat
mengembang indah,dan menghilangkan
bau amis telurnya.
hati hati dg makanan
yg digoreng cepat,karena banyak
oknum penjual nasi
goreng,mie goreng,dll,mereka memakai
arak/whisky saat
menggorengnya,jika
anda menyaksikan ia
menggoreng,lalu
ada cairan yg ia
siramkan ke panci
penggorengan dan
dalam seketika api
dari bawah
penggorengan naik
menyambar sampai
masuk keatas panci
dan menyentuh
makanan itu,maka
cairan itu adalah
alkohol,sengaja
disiramkan karena
dg itu api menjilat
jilat sampai naik dari
kompor menyentuh
makanan itu,maka
makanan lebih cepat
matang.

saya menghindari itu
semua semampu
saya,Wara’,adalah
bersungguh sungguh
dan berhati hati
menjaga diri
semampunya dalam
makanan syubhat
apalagi haram.
Saudariku,jangan paksakan
melakukan hal hal
ini,lakukan
semampunya,Allah
tidak memaksa kita
lebih dari kemampuan.
Mengenai istri,saya
lebih senang
memanggilnya
bukan dg namanya,tapi dg kata habibah
(kekasih untuk wanita),atau sayang,atau
ratuku,atau cintaku,atau sesekali dg
nama.

Saya tidak dan
sangat takut
menyentuh barang
istri saya,saya tak
pernah berani
membuka isi tas istri
saya,saya sangat
tidak berani
membuka lemari
istri saya dan saya
tak berani
menjamah hp istri
saya,apalagi
membuka sms atau isinya,jika berdering
dering berkelanjutan
saya biarkan saja
tanpa berani
menyentuhnya.

Saya sering menginap di markas
jika sedang banyak
tugas dan saya jika
akan pulang lebih
sering izin dulu pada
istri apakah saya
diizinkan pulang atau tidak,jika dikamar,saya tanyakan
padanya apakah
akan tidur dg saya atau mau tidur dg
anak anak,ia yg
memilihnya,jika saya masih
beraktifitas dg
portable dimalam
hari,saya izin dulu
apa boleh saya
nyalakan lampu
kamar atau tidak,jika ia sudah lelap
tertidur,maka saya
hanya menggunakan
lampu tidur untuk
membuka file dll,walau itu menyakiti
mata dan membuat
mata pedas,itu lebih
saya pilih daripada
saya menyalakan
lampu mengganggu
tidurnya.

Dalam makanan pun
saya hampir tak
pernah meminta
suatu type makanan,saya hanya tanya ada makanan apa,ada makanan atau tidak,karena acapkali saya pulang makanan sudah habis,karena saya pulang hampir selalu larut malam dari majelis,mungkin ada tamu atau lainnya,jika tak ada makanan maka saya tak makan,cukup minum teh saja atau kurma,jika ada makanan,dan saya sedang menyukainya maka
saya memintanya,jika saya sedang tak
menyukainya maka
saya tak makan,saya tak punya
menu makanan
favorit,apa saja asal
halal,jika istri sudah
tidur,saya lebih
sering memilih minta
disajikan makanan
oleh staf staf yg
dirumah daripada
membangunkan istri.saya mengizinkan
istri saya pergi
kemana saja selama
tempat yg baik
tentunya,tanpa
perlu ia izin,kecuali
perjalanan
marhalatain (yg
melebihi 82km) atau
perjalanan jauh.

kadang saya pulang
istri saya sudah tidur
dikamar anak anak
maka saya lebih
sering membiarkannya tanpa menganggunya,dan jika pulang saya lihat ia tiada,saya tak
repot menanyakannya
kemana ia pergi
kenapa tidak pulang
dlsb,saya tunggu
sampai subuh baru
sms untuk
menanyakan
keberadaannya,tentunya saya mengetahui istri saya orang baik baik dan selalu diantar para jamaah nisa lainnya,dan keluarnya itu dimalam hari
mestilah ke undangan majelis atau pada ustazah
lainnya,mungkin
kelelahan,mungkin
ketiduran,mungkin
terjebak macet,dan saya baik sangka saja,saya percaya penuh pada Allah swt karena setiap subuh dan isya’ saya mendoakan diri saya,istri,anak
anak,teman teman,dan keluarga,dan jika ada sesuatu yg
tak baik tentunya
ada kabar.

Bersambung..