Tag

, , ,

Lanjutan jawaban Habibana…

mereka
mengikuti tes
dirumah,dan
mendapat raportnya
dg guru kerumah,dan saya sediakan guru pula untuk membantu
hafalannya.
walau hal ini tampak
berlebihan dan
cukup besar
biayanya,namun ini
jauh lebih berharga
daripada jika mereka tak melakukannya,zuhud adalah berhemat dan tidak mencintai harta,tapi menjalankan harta
pada tempatnya,tidak kikir harta untuk mencapai
keridhoan Allah swt,sebaliknya kikir
harta untuk dikeluarkan untuk
urusan duniawi.
dalam soal makanan,saya tidak lagi mau
membeli makanan
sembarang di pasar,karena kini banyak
beredar ayam tiren
(ayam bangkai yg
mati kemarin),demikian gelar yg
umum
dimasyarakat,kita
bisa bayangkan,pasar induk jakarta
menerima jutaan
ayam yg dipasok
dari daerah setiap
harinya,ayam
diangkut dg truk
atau kendaraan bak
terbuka,bisa
dipastikan dari 100
ayam ada beberapa
yg mati,terhimpitkah,atau sebab lainnya,maka
puluhan ribu ayam
bangkai beredar
setiap hari di
ibukota,sebagian penjual justru suka
membelinya karena
harganya lebih
murah,demikian
pula restoran,warteg dll,mereka sering lebih suka membelinya karena lebih murah,walau
ada juga restoran2
yg tak mau membeli
ayam bangkai,namun para oknum
pegawainya ada
saja yg melakukan
itu dg mengantongi
hasil yg lebih,sebab
ayam yg dibeli
adalah ayam
bangkai,tanpa
sepengetahuan
pemilik restoran.
maka saya curiga
(tidak menuduh)
pada KFC dll,yg
menyajikan ribuan
ekor ayam tiap
harinya,sangat
mungkin ada oknum
bagian
pembelanjaan yg
melakukan
kejahatan tsb,walau
kita tak menuduh
secara keseluruhan
karena tidak ada /
belum ada buktinya,demikian pula gorengan yg djual oleh para penjualnya,nasi
goreng dll,mereka
banyak memakai
minyak jelantah, walau tidak
kesemuanya
berbuat demikian,apakah minyak
jelantah itu?,ia
adalah limbah
minyak bekas
memasak di hotel
hotel berbintang dan
restoran2 mewah,yg tidak sedikit yg
menyediakan
makanan seperti
babi,katak,dlsb yg
diharamkan,maka
minyak itu telah
bercampur dg
makanan haram, para penjual
gorengan dan nasi
goreng dll itu
mungkin tak
menyadarinya,atau
mengetahuinya tapi
tidak perduli.
demikian pula
kambing pada sate
dan sop yg dijual,pernah saya
temukan oknum yg
mencampurnya dg
daging tikus.
demikian pula
masakan padang
atau warteg (saya
bukan memvonis),namun ada laporan
dari fihak jamaah
kita,bahwa
tetangganya bekerja
sebagai pemasok
kikil sapi ke
restoran2 padang
dan lainnya,ia
menggantinya dg
kikil babi,karena
lebih banyak
dagingnya,menjadi
lebih mahal harga
jualnya,namun lebih
murah ia
membelinya dari
pemasok kikil babi
itu dari wilayah luar
kota.
hukum dari makanan
makanan diatas
tidak haram secara
mutlak,kecuali
sudah terbukti dg
dua saksi ada yg siap
bersaksi akan hal itu,namun hukum
makanan2 diatas
menjadi syubhat,tidak haram
memakannya,namun jika betul ia ada campuran yg haram,akan
membawa dampak
pada tubuh kita
untuk malas
beribadah,dan
semangat berdosa.
curigalah,misalnya
anda selalu
melakukan ibadah
dg taraf tertentu,lalu setelah makan
direstoran fulan,atau beli gorengan
dari penjual
gorengan,atau
setelah makan suatu
makanan,maka saat
anda ibadah terasa
sangat berat,malas,dan serba gundah,lalu coba hindari
makanan itu,jika
anda kembali pada
kesempurnaan
ibadah yg biasa anda
capai,maka telah
jelas makanan yg
anda makan saat itu
mengandung hal yg
haram.
makanan halal
memicu pada
semangat beribadah,dan malas berbuat
mungkar,sedangkan
makananan haram
memicu malas
berbuat pahala dan
semangat berbuat
dosa.
makanan syubhat
ada ditengah2nya, bisa mengandung yg
haram,bisa tidak,maka saya tak mau
spekulasi.,saya
memerintahkan
pembantu dirumah
untuk membeli
kambing,ayam,dan
sapi,pada tempat yg
langsung
menyediakannya
berikut
menternaknya,ia
menjual ayam hidup,tinggal pilih,mau
ayam yg mana,ia
menyembelihnya,membersihkannya,dan
menyerahkannya
pada kita dg
kesaksian kita
sendiri,demikian
pula penjual
kambing ada
beberapa tempat yg
memang peternak
kambing,ia
memotong kambing
sendiri,dan
menjualnya,maka ia
terpercaya,demikian pula sapi.

Bersambung..