Tag

, , ,

Kisah ini saya ambil dari forum website majelisrasulullah.org yang ditulis oleh Al Habib Munzir Fuad Al Musawa ra. (da’i ibukota dan pimpinan Majelis Rasulullah SAW) tentang keseharian keluarganya. Postingan ini bermula ketika ukhtii hafsah qanita bertanya tentang keseharian keluarga
Habibana: istri dan
anak-anak Habibana
dari segi tarbiyah,
zuhud, qanaah,
lembut, sabar, wara,
dalam ibadah dll. Dan berikut jawaban dari Habib Munzir Al Musawa:

hamba pendosa ini
bukanlah yg patut
dicontoh sebagai
guru yg baik dan
panutan yg baik,
walaupun hamba
berusaha mencapai
kehidupan yg zuhud,
wara, tawadhu,
sakinah, dalam
rumah tangga dan
dalam
bermasyarakat.
zuhud adalah hidup
dg sederhana dalam
keduniawian, hamba
belum mampu
mencapainya,
namun sebagian
usaha yg hamba
lakukan adalah
menghilangkan cinta
pada semua hal yg
bersifat duniawi,
berupa harta dll yg
tidak ada sangkut
pautnya dg asesoris
dakwah.
hamba
membutuhkan mobil,
untuk mencapai
banyaknya majelis
dan ketepatan
waktu untuk tiba di
lokasi yg sudah
ditunggu puluhan
ribu orang hampir
setiap malamnya,
disatu fihak tanpa
hamba punya
kendaraanpun
hamba akan siap
dijemput oleh ribuan
mobil yg akan
mengantar hamba
kemanapun hamba
akan pergi, namun
hamba tak mau
menyusahkan orang
lain, apalagi
membebani para
penyelenggara
untuk harus
menyediakan
kendaraan
penjemput pula,
maka hamba
membeli mobil dg
angsuran,
hamba merawat
mobil itu secara
sebaik baiknya
secara mekanik dan
mesinnya dg
perawatan yg
sangat serius, demi
tak menghambat
kelancaran dakwah
hamba, namun
hamba tidak
perdulikan body
mobil yg sudah
penuh baret dan
penyok khususnya di
kiri body mobil yg
selalu terdesak oleh
ribuan orang yg
berebutan
menyalami hampir
tiap malamnya,hamba tak perlu
membenahi
bodynya, yg hamba
butuhkan adalah
mesinnya dan bagian
dalamnya untuk
kelancaran dakwah.
banyak orang
menyarankan dan
mengejek kenapa
mobil penyok
penyok ini tak
diganti dg yg lebih
bagus, atau paling
tidak dibenahi,
apakah tidak malu
pakai mobil penyok2
begini kesana
kemari padahal
hamba memimpin
jutaan ummat?,
hamba sungguh
tidak malu, biar saja
demikian, jamaah
tidak melihat
kendaraan, jamaah
butuh penyampaian
dan bimbingan,
bukan masalah mobil
tua atau penyok dan
tak sedap dilihat,
hamba tak rela
mengeluarkan 1
rupiahpun untuk
membenahi
bodynya, karena itu
bukan hajat dakwah,
lebih baik diberikan
pada fuqara
dijalanan jika ada
kelebihan harta.
hamba hingga kini
masih mengontrak,
walaupun rumah
kontrakan itu besar
dan bagus, tentunya
itu hajat dakwah
untuk menampung
tamu khususnya
majelis nisa (majelis
kaum wanita) setiap
minggu sorenya
dirumah, jika rumah
hamba sempit, maka
massa akan
memenuhi dan
meluber keluar
rumah dan
mengganggu
kenyamanan
tetangga pula, maka
hamba berusaha dg
kemampuan hamba
mengontrak rumah
besar, namun hanya
bisa menampung
sekitar 700 orang
saja, jika massa
melebihi itu, hamba
belum ada
kemampuan
mengontrak rumah
yg lebih besar lagi.
hamba menata
rumah senyaman
mungkin, tapi itu
demi kenyamanan
para hadirat yg
menghadiri majelis,
dikontrakan ini
hamba tidak banyak
mempunyai benda
dan perangkat
rumah, kesemuanya
hampir merupakan
milik rumah orang yg
hamba mengontrak
padanya, hamba
hanya membeli dua
perangkat kursi
rotan dihalam
tengah dan teras
belakang, lalu
memasang karpet
diseluruh rumah,
bukan lain demi
kenyamanan hadirin,
hanya sebuah lemari
pakaian, sebuah
kasur, dan sebuah
kulkas dan beberapa
hal lainnya yg milik
hamba, sisanya
adalah perangkat yg
membawa
kenyamanan pada
hadirin, seperti kipas
angin, dispenser di
hampir setiap sudut
ruangan beserta
gelas gelasnya, dan
gorden gorden
pemisah jika tamu
adalah pria dan
wanita.

Bersambung..