Tag

, , , , ,

Ummu Sulaim rha, isteri Abu Thalhah ra menuturkan: Suatu hari, ketika suamiku Abu Thalhah sedang pergi, puteraku meninggal dunia. Jenazahnya kuselimuti dan kuletakan di pojok rumah. Tak lama kemudian Abu Thalhah datang. Hari itu dia berpuasa sunnah. Kusiapkan makanan dan ia pun berbuka.’Bagaimana keadaan putera kita?’. Tanyanya kepadaku.’ Alhamdulillah, keadaannya jauh lebih baik dari sebelumnya. Sekarang ia lebih tenang, tidak kesakitan lagi’. Jawabku. Aku lantas berhias dan berdandan. Belum pernah aku berdandan sebaik itu, sehingga di malam itu Abu Thalhah menggauliku. Keesokan harinya, aku berkata kepadanya,’ Apakah engkau tidak merasa heran dengan tetanggamu?’.’Apa yang terjadi dengan mereka?’ Jawabnya.’ Mereka diberi pinjaman, tetapi ketika barang pinjaman itu diminta kembali mereka merasa sedih dan mengeluh’.’Betapa buruk sikap mereka itu’. Jawab Abu Thalhah.’Ketahuilah, puteramu juga sebuah pinjaman dari ALLAH dan kini ALLAH telah memintanya kembali’. Mendengar berita kematian puteranya tersebut, Abu Thalhah memuji ALLAH, mengucapkan kalimat istirja’ kemudian menghadap Rasulullah SAW dan menceritakan peristiwa yang baru saja dialaminya. Setelah menyimak ceritanya, Rasulullah SAW bersabda ‘YAA ALLAH, BERKATILAH MEREKA DALAM (HUBUNGAN KEDUANYA) TADI MALAM’. Pembawa cerita ini berkata ‘Berkat do’a Rasul SAW tersebut, aku melihat 7 putera Abu Thalhah di masjid, mereka semua ahli membaca Al Qur’an. Sahabat Jabir ra menyatakan bahwa Rasulullah SAW bersabda:’Aku bermimpi masuk Surga, disana kulihat Rumaisha, Isteri Abu Thalhah’.

HIKMAH DI BALIK KISAH

Luar biasa, itulah kata yang tepat untuk menggambarkan ketabahan dan kesabaran Ummu Sulaim. Hari itu suaminya pergi mencari nafkah dalam keadaan berpuasa. Tiba-tiba puteranya tercintanya meninggal dunia. Hatinya tentu sedih. Ketika suaminya tiba, ia sadar suaminya lelah dan lapar. Sebagai seorang istri yang shalehah, Ummu Sulaim mengetahui bahwa sangat tidak tepat jika ia harus menyambutnya dengan berita duka. Karena itulah, ketika suaminya menanyakan bagaimana keadaan puteranya, ia menjawab dengan jujur, bahwa keadaan putranya, ia menjawab dengan jujur, bahwa keadaan puteranya lebih baik. Ia yakin puteranya yang belum memiliki dosa itu berada di Surga ALLAH. Sebuah jawaban yang sangat bijaksana, tidak berdusta akan peristiwa yang sebenarnya terjadi dan sekaligus mampu menenangkan hati suami. Ummu Sulaim lalu mempersiapkan hidangan untuk suaminya berbuka. Selepas itu, ia berdandan demi menyenagkan hati suaminya. Coba Anda bayangkan, bagaimana kesabaran Ummu Sulaim sehingga ia dapat menyembunyikan semua kesediahannya tersebut dibalik wajah yang berseri-seri penuh senyum. Malam itu, bahkan ia sanggup melayani suaminya dengan sempurna. Keesokan harinya, diwaktu yang tepat, Ummu Sulaim baru memberitahukan kepada suaminya apa yang sebenarnya telah terjadi. Ia mengajarkan kepada kita, bagaimana caranya menyampaikan berita duka. Ia mampu menyampaikan kabar duka tersebut dengan cara yang luar biasa indah. Tentu sang suami, Abu Thalhah terkejut. Ia bingung dan bimbang atas sikap istrinya tersebut. Benarkah yang ia lakukan?. Sang anak meninggal dunia dan ia tetap berdandan untuk menyenangkan dan melayani suaminya dengan baik. Pagi itu Abu Thalhah menghadap kepada Rasulullah SAW, menceritakan peristiwa yang dialaminya. Beliau membenarkan tindakan Ummu Sulaim bahkan mendoakan keduanya. Saudaraku, mampukah kita bersabar seperti itu? Dalam kehidupan ini kita terlalu rapuh. Sedikit cobaan mampu menggoncangkan iman dan menghapuskan semangat hidup. Ummu Sulaim telah melaksanakan sabda baginda Rasulullah SAW yang mengatakan ‘SABAR ITU PADA PUKULAN PERTAMA’. Sayyidina Umar bin Khatab menjelaskan cara melatih kesabaran di dalam menghadapi setiap musibah yang tiba. Beliau ra berkata ‘Tidaklah aku diuji dengan sebuah musibah melainkan di dalamnya kutemukan empat kenikmatan dari ALLAH, yaitu karena musibah tersebut tidak menimpa agamaku, tidak lebih besar dari yang sedang terjadi, aku ridho dengan musibah itu dan aku dapat mengharapkan pahala darinya’. Semoga kisah Ummu Sulaim ini membuat diriku menjadi lebih sabar dalam menghadapi persoalan… Dahsyatnya Ummu Sulaim…so ladies, jangan cari idola lain…contoh wanita tegar, sabar, tawadhu’ sudah ada dalam agama mu…Ummat Sayyidi Rasulillah…Muhammad ibni Abdillah…

Sumber: Catatan Facebook – Ulfa Siti