Tag

, , , ,

Salamah ibn Dinar atau biasa dikenal dengan panggilan Abu Hazim adalah seorang ulama’ di Madinah sekaligus guru dari Umar bin Abdul Aziz. Ia bercerita tentang pertemuannya dengan Umar bin Abdul Aziz setelah diangkat sebagai kholifah.”Aku mendapatkannya berada di depan rumah, hanya saja aku tidak mengenalinya karena keadaannya telah berubah tidak seperti yang pernah aku kenal ketika ia menjabat sebagai gubernur Madinah.”Katanya.

Tatkala aku mendekat kepadanya, aku berkata,”Bukankah engkau amirul mukminin Umar ibn Abdul Aziz?” “Ya…”jawabnya.
Aku berkata,”Apa yang telah terjadi denganmu?!! Bukankah wajahmu (dahulu) berseri, kulitmu segar dan kehidupanmu penuh kenikmatan.” “Ya…”jawabnya.
Aku berkata,”Lalu apakah yang telah merubah penampilanmu setelah engkau menjadi kholifah.” “Bukankah emas dan perak yang kau miliki jauh lebih banyak.”kataku lagi. “Apa yang telah berubah pada diriku wahai Abu Hazim?!”tanyanya.
Aku menjawab,”Badanmu (menjadi) kurus…kulitmu kasar…wajahmu menguning…dan pancaran kedua matamu sayu.”

Mendengar pertanyaanku justru ia menangis dan berkata,”Maka bagaimana bila kamu melihatku didalam kubur setelah tiga hari?Kedua mataku meleleh diatas pipi, perutku robek,robek, dan belatung menggerogoti badanku.”

Ia kemudian mengangkat pandangannya kepadaku dan berkata,”Tidakkah kamu ingat sebuah hadits yang pernah kamu katakan kepadaku di Madinah wahai Abu Hazim?”
Aku menjawab,”Aku telah menyampaikan kepadamu banyak hadits wahai amirul mukminin. Hadits manakah yang engkau maksudkan?” “Hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah”jawabnya.
“Ya…aku mengingatnya wahai amirul mukminin”kataku.
Aku berkata,”Ulangilah untukku, sesungguhnya aku ingin mendengarnya darimu.”
Aku berkata,”Aku mendengar Abu Hurairah menuturkan, aku mendengar Rasulullah SAW bersabda,”Sesungguhnya di depan kalian ada jalan mendaki yang sulit dilalui, penuh dengan bahaya, tidak ada yang mampu melewatinya kecuali setiap orang yang berbadan kurus (karena banyak beribadah dan berjihad).”

Umar kemudian menangis dengan begitu kerasnya hingga aku merasa takut kalau ulu hatinya menjadi pecah.
Ia lalu mengusap air matanya dan menoleh kepadaku seraya berkata,”Apakah kamu akan mencelaku wahai Abu Hazim apabila aku menguruskan badanku untuk jalan mendaki lagi sukar tersebut, dengan harapan aku bisa selamat darinya? Sedangkan aku tidak menganggap diriku bisa selamat.” Subhanallah!

Sumber: lembar tausiyah