Tag

, , ,

Al Imam Anas bin
Malik pernah
berkata,“Orang
mukmin setidaknya
mempunyai lima hari
raya. Pertama,
setiap hari yang di
lewati orang mukmin
tanpa melakukan
dosa, ia akan
merasakan Hari Raya
di hari tersebut.
Kedua, Suatu hari
jika ia mati dengan
membawa Iman dan
Syahadat, maka
itulah Hari Raya
terbesar baginya.
Ketiga, suatu hari
jika ia melewati
Shirat dan ia selamat
dari jilatan api
neraka, maka itulah
Hari Raya bagi
dirinya. Keempat,
suatu hari ketika ia
di masukkan ke
dalam syurga tanpa
hisab, maka itulah
Hari Raya bagi
dirinya. Kelima, suatu
hari jika di dalam
Syurga dan
mendapatkan
kemulian yang Maha
Hebat yaitu dapat
memandang Wajah
Mulia Allah
Subhanahu Wa
Ta’ala, maka itulah
Hari Raya yang tiada
banding baginya dan
di dambakan seluruh
hamba.

Di ceritakan dari
Anas bin Malik Ra
dari Nabi SAW pada
suatu hari beliau
keluar ketika selesai
menunaikan Shalat
Eid. Nabi SAW
melihat anak-anak
kecil sedang bermain
satu sama lainnya,
namun ada seorang
bocah yang duduk
seorang diri
berlinang air mata
memandang wajah
teman-teman yang
sedang riang
gembira.

Nabi SAW
menghampirinya
seraya berkata,
“ Wahai anakku,
kenapa engkau
menangis? Dan
mengapa engakau
tidak ikut bermain
bersama mereka ?”
Bocah kecil itupun
menjawab tanpa
mengetahui siapa
sebenarnya yang
datang kepadanya,
“ Wahai paman,
ayah dan keluargaku
meninggal dunia,
gugur sebagai
Syuhada membela
perjuangan
Rasulullah SAW.
Kemudian ibuku
nikah lagi dan
memakan seluruh
harta peninggalan
ayahku serta
suaminya yang baru
mengusirku dari
rumahnya. Hari ini
aku belum makan,
belum merasakan
setetes airpun,
akupun tidak punya
baju dan tidak ada
tempat berteduh
bagi diriku. Oleh
karena itu ketika aku
melihat teman-
temanku dalam
keadaan riang
gembira dengan baju
yang bagus bersama
orang tua mereka,
Bagaimana aku tidak
bersedih ?”

Maka Rasulullah SAW
menggendong bocah
itu dengan tangan
nya yang mulia dan
membelainya seraya
berkata,
“Wahai anakku,
maukah engkau aku
jadi ayahmu? Aisyah
sebagai ibumu? Ali
sebagai pamanmu?
Hasan dan Husain
sebagai saudaramu?
Fatimah sebagai
saudarimu ?”
Maka tahulah bocah
itu bahwa yang
menggendongnya
adalah Rasulullah
SAW. Iapun berkata,
“ Bagaimana aku
tidak senang Ya
Rasulullah ….!”

Sesampainya di
rumah, Nabi SAW
mengenakan baju
yang baru,
memberikan
makanan yang lezat
dan memberìnya
wewangian. Dengan
senyum
kegembiraan anak
itu keluar menemui
teman-temannya
yang sedang
bermain. Mereka
bertanya-tanya,”
Mengapa kemarin
engkau menangis
dan sekarang
bahagia tertawa? “
Bocah itu menjawab,
” Kemarin aku lapar,
haus, dan yatim.
Tetapi sekarang aku
bahagia karena
Rasulullah SAW
Ayahku. Aisyah
Ibuku. Hasan dan
Husain Saudaraku. Ali
adalah Pamanku dan
Fathimah Saudariku.
Bagaimana aku tak
bahagia …! “

Ketika Nabi SAW
wafat, bocah itu
menangis dan
bersimpuh di atas
pusara Nabi SAW
dengan berlinang air
mata, ia berkata
” Ya Allah, hari ini
aku menjadi yatim
yang sebenarnya.
Ayahku yang sangat
mencintaiku sudah
tiada. Apakah aku
harus hidup
sebatang kara? “
Maka datanglah
Sayyidina Abu Bakar
Ash-Shiddiq
menghampirinya
sambil membujuk
dan memeluknya
dengan berkata, ”
Akulah pengganti
ayahmu yang sudah
tiada. “
Habib Ahmad bin
Abdurrahman
Assegaf melanjutkan
nasehatnya,
” Orang yang
bahagia adalah
orang yang menjaga
diri dan hatinya
untuk mencintai
Allah dan RasulNya.
Oleh karena itu
didiklah jiwa kita dan
keluarga untuk
senantiasa duduk
dan menghadapkan
wajah kita kepada
Allah SWT. Maka
pasti Allah akan
memberikan segala-
galanya dan tidak
akan membìarkan
kita begitu saja.
Jadikan hari-hari
kita tanpa maksiat
sehingga kita akan
merasakan Hari Raya
setiap harinya.
Setiap orang
hendaknya
memanfaatkan
waktunya dan tidak
menyia-nyiakan baik
untuk urusan dunia
maupun akherat,
karena orang yang
menyia-nyiakan
waktunya mirip
dengan penganggur.
Kunjungilah orang-
orang Shaleh agar
mata kita menatap
wajah mereka
hingga terekam apa
yang mereka
lakukan pada diri
kita. “
Demikian sekilas
tentang apa yang
telah di soroti Habib
Ahmad bin
Abdurrahman
Assegaf tentang Hari
Raya yang
sebenarnya, agar
kita meneladani para
salaf shaleh dengan
memperbanyak
syukur dan taat.
Semoga yang
ringkas ini dapat di
jadikan penerang
dan penuntun di hari
yang penuh Rahmat
dan Karunia ini
sebagai hari yang di
muliakan Allah Dan
RasulNYA..
Majalah Cahaya
Nabawiy No.45 Th.IV
Syawal 1427 H /
November 2006 M

arroudloh