Tag

, ,

Abu Hani Muhammad
bin Hakami -atau
yang lebih dikenal
dengan Abu Nawas-
lahir di Persia tahun
735. Seorang
sastrawan terbesar
pada zaman
kekuasaan Sultan
Harun Al Rasyid al
Abassi yang menjadi
khalifah Dinasti
Abasiyah tahun
786-890.
Abu nawas banyak
menggubah sajak-
sajak bercorak
leluhur dan senda
gurau (mujuniyat),
ahli merangkai syair
tentang cinta dan
kecantikan wanita,
pujian terhadap
seseorang, bahkan
SINDIRAN HALUS
NAMUN TAJAM.
Karena kelakuannya
yang tak bermoral,
bahkan
kemungkinan Atheis,
Abu Nawas tidak
disukai kalangan
agamawan dan
mereka yang
menjunjung tinggi
adab kesopanan.
Ada suatu malam –
konon di malam
Lailatul Qodar- ia
didatangi seseorang
tak dikenal yang
berkata:
Ya Abu Hani, idza lam
takun milhan tuslih,
fa la takun
zubabatan tafsid
Hai Abu Hani, jika
engkau tak mampu
menjadi garam yang
melezatkan
hidangan, jangan lah
engkau menjadi lalat
yang menjijikan
merusak hidangan
itu.
Peristiwa di malam
Lailatul Qodar itu
membawa
perubahan besar
kepada Abu Nawas.
Ia menyadari
kesalahan-
kesalahannya.
Menyadari bahwa
selamanya hanya
menjadi lalat
menjijikan yang
membuat sebal
orang lain.
Bertobatlah ia. Syair-
syairnya diganti
dengan dzikir,
malam-malam
memabukan diganti
dengan i ’tikaf di
masjid. Yang keluar
dari bibirnya ialah
ayat-ayat Al Qur
’ an, yang terpikir
dikepalanya ialah ke
Maha Agungan Tuhan
yang mampu
merubah tabiat
buruk manusia
dalam sekejap
Malam dihabiskan
dengan
menghinakan diri
dihadapan Tuhan
yang Maha Mulia
siang dihabiskan
dengan mencari
karunia petunjukNya
ke
gurun dan samudera
RahmatNya.
Sebaik-baiknya
ibadah umatku ialah
membaca Al Qur
’ an. Maka Al
Qur’an yang
tersurat, tersirat,
dan tersuruk dibaca
dan digubahnya
dalam puisi puji-
pujian.
Salah satu karya
puisi terakhirnya
yang terkenal hingga
kini, dijadikan
senandung di
pesantren-pesantren
dan nasyid di
kalangan remaja:
Illaahi lastulil
firdfausi a ’laa wa
laa aqwaa ‘ alan
naaril jahiimi. fahablii
taubatan waghfir
dzunuubi, fainnaka
ghoofiru dzanbil
adziiimi
Ya Alloh tak pantas
(surga) firdaus
untukku tapi aku tak
kuat memasuki
nerakamu maka atas
segala dosaku, aku
bertobat karena
ampunanmu lebih
luas.
Demikianlah, seorang
pemabuk yang
hampir terjatuh ke
jurang
kehancuran.
diselamatkan di
malam Lailatul Qodar
menjadi penyair
dengan karya yang
dikenang sepanjang
Zaman.
Lalu,bagaimana
dengan kita
menjelang malam
Lailatul Qodar ini?

Sumber: arroudloh