Tag

, , , ,

Cukup sulit mencari kepribadian wanita yang mempunyai inner beauty (kecantikan dari dalam) yang dapat diandalkan. Apalagi wanita-wanita itu ternyata adalah sosok dibalik kesuksesan sebuah perjuangan Nabi membangun peradaban Islam. Salah satunya adalah Sayyidatuna Khadijah, pantaslah gelar “the Greatest Women” melekat pada pribadi beliau, bersama wanita sukses yang telah di catat di Al-Qur’an.

Sayyidatuna Khadijah Al-Kubra adalah sosok saudagar wanita kaya dan mulia. Ia mempekerjakan orang Quraisy dalam memperniagakan barang dagangan miliknya. Maka ketika beliau mendengar kejujuran dan keshalehan perangai Rasul SAW, Ia pun menawari Rasul lewat kurirnya untuk memperniagakan barang-barang terbaiknya bersama pelayannya yang bernama Maisarah dan Rasul pun menyetujuinya untuk berdagang ke Syam. Setelah tiba di Makkah bersama rombongannya beliau kemudian bertawaf di sekitar Ka’bah beberapa kali, sementara Maisarah yang datang ke rumah Khadijah lebih dulu menceritakan segala yang disaksikannya dari kemuliaan akhlak Rasul SAW dan keajaiban yang terjadi selama perjalanan sehingga majikannya tersebut menaruh simpati pada Rasulullah.

Dalam waktu yang cukup lama, perasaan dan pikiran Khadijah tercekam oleh harapan untuk hidup berdampingan dengan pemuda yang menjadi buah bibir masyarakat Quraisy waktu itu. Hatinya selalu bertanya, “Mungkinkah aku yang seorang ‘Janda’ ini mampu bersuamikan pemuda rupawan berusia 25 tahun?”.

Dalam kegalauan hati seperti itu, datanglah Nafisah salah seorang sahabat karib Khadijah menawarkan diri untuk menjadi mediator (perantara) perasaannya kepada Rasulullah SAW dan menanyakan alasan Rasul lebih memilih membujang.

Akan tetapi keadaan langsung berubah ketika Rasul langsung menyanggah dan balik bertanya: “Dengan apa aku akan beristri?”, tapi Nafisah langsung menimpalinya dengan berkata:“Jika anda dikehendaki oleh seorang wanita rupawan, bangsawan dan hartawan, apakah anda akan menerimanya?”. Mendengar pertanyaan itu, Rasul SAW segera mengerti bahwa yang dimaksud adalah Khadijah.

Selang beberapa minggu, Rasul dan keluarganya mendapat undangan dari Khadijah dan terjadilah pernikahan mulia tersebut.

Dalam rangka memuji dan menetapkan posisi Khadijah dalam diri Rasulullah SAW. Beliau (dalam kitab “Al-Isti’ab”) bersabda: “Allah tidak memberi padaku pengganti istri yang lebih baik dari dia (Khadijah ra), ia beriman kepadaku dikala semua orang mengingkari kenabianku, ia membenarkan kenabianku dikala semua orang mendustakan diriku, ia menyantuni diriku dengan hartanya dikala semua orang tidak mau menolongku, melalui dia Allah menganugerahi anak kepadaku,tidak dari istri yang lain”.

Tapi mengapa Mergiliouth dan Muir, dua orientalis barat menilai bahwa kecintaan Muhammad SAW kepada Khadijah Ra hanya karena harta dan kedudukan wanita itu dikomunitas Quraisy waktu itu. Keduanya menuduh “Muhammad takut kalau-kalau Khadijah minta cerai”, kalau seandainya yang dikatakan keduanya adalah sebuah fakta, mengapa kesetiaan dan kecintaan Rasul SAW kepada Khadijah ra masih terus berlanjut meskipun beliau telah wafat?

Apakah mereka tidak melihat riwayat Aisyah Ra yang berujar “seolah-olah di dunia ini tidak ada wanita selain Khadijah Ra” karena Beliau melihat tidak ada seorang wanita pun yang lebih baik darinya.